MENGETEAHUI APA ITU NILAI
MENGETAHUI APA ITU NILAI
Disusun oleh kelompok 7
Desy Maulana Andini, Elma Rahmianti, Julfa Isnani, Nida Hasanah.
"Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Dasar-Dasar Pendidikan Moral"
Dosen Pengampu
Prof. Dr. H. Sarbaini, M.Pd.
A. Nilai-nilai
dan Sekolah
Mengajar
adalah kegiatan yang diorientasikan pada nilai. Mengajar nilai-nilai dalam
kenyataan adalah tidak dapat dihindarkan. Semua aktivitas dalam mana para guru
terlibat, seperti meminta peserta didik untuk membaca buku-buku mereka,
pengaturan dan penentuan tempat duduk, topik-topik yang dipilih untuk
didiskusikan, gaya dalam berdiskusi dengan peserta didik, film-film dan
rentetan foto film yang dipilih, pembicara-pembicara yang diundang, film-film
yang dianjurkan dan dimainkan, tugas-tugas yang guru berikan dan ujian-ujian
mereka persiapkan. Semuanya memberi kesan bahwa para guru menggarap beberapa
ide, peristiwa, individu dan perilaku lebih penting dari yang lain, serta bagi
peserta didik untuk dipertimbangkan.
Nilai-nilai
tidak hanya diajarkan, tetapi juga ditumbuhkembangkan, demikian pula di
sekolah-sekolah secara keseluruhan. Seperti John Childs (1950, 17-19) pernah
mengemukakan bahwa organisasi dari sistem sekolah adalah berada dalam kegiatan
moral itu sendiri, untuk menunjukkan upaya sengaja dari masyarakat manusia
untuk mengontrol evolusi masyarakat itu sendiri. Nilai-nilai dengan jelas
meresap dalam kurikulum "formal" sekolah adalah direncanakan secara
sengaja untuk pengalaman-pengalaman, yang didesain dan diharapkan untuk
dilaksanakan, meskipun tidak selalu dinyatakan secara jelas, tujuan-tujuan dari
berbagai bidang kurikulum. Bagaimanapun, nilai-nilai juga adalah bagian dari
"kurikulum tersembunyi merupakan pengalaman yang tidak direncanakan dan
sering hasilnya tidak seperti diharapkan dan kadang- kadang tidak diharapkan
bagi peserta didik untuk pelajari.
Hal yang
dibahas di sini adalah bahwa "pendidikan nilai-nilai berlangsung dalam
seluruh waktu di sekolah. Tidak hanya pada kurikulum, tetapi juga dalam
interaksi sehari-hari antara peserta didik dan staf sekolah! Sebagai contoh,
misalnya dalam peristiwa-peristiwa dari tempat bermain, dalam satu macam
olahraga yang disenangi dan yang tidak disenangi serta aturan sportivitas,
pemuda diajar untuk menentukan perilaku mereka, peran yang sesungguhnya dalam
berbagai permainan. Hal itu nampak dalam kehidupan sekolah, dalam seluruh
perilaku yang disetujui atau tidak disetujui, sebagai pemuda mereka diajar
dengan cara-cara konvensional atau moral untuk orang yang belum dewasa, dari
masyarakat mereka. Itu semua kelihatan dalam definisi sekolah terhadap
kenakalan dan dalam model perlakuan yang diharapkan terhadap mereka, juga
nampak dalam cara anak diajar dalam memperlakukan sesuatu yang berbeda.
pada
tingkat tertentu para guru diyakinkan untuk ambil bagian dalam kehidupan
masyarakat mereka, dan dalam tingkat tertentu pemuda percaya bahwa mereka
belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dipatuhi, dalam latihan rutin
sebagai orang yang ditugaskan. Nampak dalam cara masyarakat ditata untuk
perilaku yang sesuai dengan karakteristik sekolah; dalam ketentuan yang dibuat
untuk pekarangan sekolah.
Meskipun
kebenaran-kebenaran dan kekuatiran-kekuatiran dapat dimengerti, mereka tidak
membutuhkan, tidak menghalangi para guru dari urusan nilai-nilai dan isu-isu
nilai dalam kelas-kelas mereka. Pertama, beberapa isu dan topik suatu kejadian
yang dipandang sebagai materi-materi pribadi, sekarang dibahas secara terbuka
dalam berbagai surat kabar dan majalah. Kedua, para guru dapat menolong para
peserta didik untuk berpikir mengenal dan membahas isu-isu nilai dasar, tanpa
menuntut hal-hal yang khusus dari pandangan atau posisi yang didukung atau
diterima.
Anggapan
bahwa menolong peserta didik secara jelas dalam menyelidiki dan mengembangkan
nilai-nilai adalah tujuan-tujuan yang sah bagi para pendidik untuk diikuti.
Lebih lanjut, hal itu amat penting sekali dan sangat dibutuhkan dalam
pendidikan sekarang, dan perencanaan serta desain yang sistematis dari
strategi-strategi pengajaran secara luas dari sekolah adalah kebutuhan mutlak
untuk mewujudkannya.
B. Apakah
Nilai Itu
Nilai
adalah ide, cita-cita atau gagasan, suatu konsep tentang apa yang seseorang
anggap penting dalam hidup. Bila seseorang menilai sesuatu, pria atau wanita
menganggap hal itu berguna, bernilai dimiliki, bernilai dikerjakan atau
bernilai dalam mendapatkannya. Kajian terhadap nilai-nilai biasanya dibagi
dalam bidang etika dan estetika. Estetika mengacu pada kajian dan pembenaran
dari apa yang manusia anggap indah, apa yang mereka nikmati. Etika mengacu pada
kajian dan pembenaran terhadap perilaku, bagaimana orang berperilaku. Landasan
dari kajian etika adalah pertanyaan terhadap moral-moral, cermin pertimbangan
dari apa yang benar dan salah. Meskipun beberapa komentar akan dibuat terhadap
mengajar nilai-nilai estetika dalam buku ini, namun perhatian utamanya adalah
pada mengajar nilai etika.
Seperti
semua ide, nilai tidak berada dalam dunia pengalaman; mereka ada dalam pikiran
manusia. Nilai adalah standar dari perilaku, keindahan, efisiensi atau kegunaan
yang orang mendukung dan mereka coba untuk lakukan sesuai dengan atau
memeliharanya. Semua orang memiliki nilai-nilai, meskipun mereka tidak selalu
sadar secara sengaja pada adanya nilai-nilai tersebut.
Sebagai standar, nilai memutuskan kita untuk menentukan, dalam hal yang sederhana, jika kita menyukai sesuatu atau tidak. Dalam bentuk yang lebih komplek, nilai-nilai menolong kita untuk menentukan apakah hal tertentu (seperti objek, orang, ide, cara untuk berperilaku dan lainnya) atau suatu kelas itu baik atau buruk. Standar yang lebih penting yang kita miliki adalah satu pedoman, melalui mana kita menilai perilaku, menentukan bentuk-bentuk tindakan yang pantas dan bermanfaat serta bentuk-bentuk apa yang tidak. Standar itu adalah nilai-nilai moral.
C. Cara-cara
dan Tujuan-tujuan
Kita
sering mempunyai himpunan standar tertentu untuk menolong kita mencapai atau
memperoleh nilai-nilai yang lain. Hal tersebut sering disebut dengan
nilai-nilai instrumental. Nilai-nilai instrumental adalah cara-cara yang
didukung orang sebagai kebutuhan dan penting dalam mencapai nilai-nilai lain
atau tujuan.
Tujuan-tujuan
dapat mengabsahkan cara-cara? Bagaimana yang lain dapat mereka absahkan. Tetapi
hal itu tidak untuk mengatakan bahwa beberapa dan seluruh cara diabsahkan.
Masalahnya terletak dalam menentukan apakah tujuan-tujuan tertentu mengabsahkan
cara-cara tertentu. Percuma untuk mengatakan bahwa hal demikian amatlah sulit.
Bahaya lagi-lagi timbul dalam kenyataan, bahwa cara-cara dapat menjadi kegiatan
penting bagi orang, sehingga cara-cara menjadi tujuan. Hal itu mungkin atau
tidak mungkin menjadi sesuatu yang baik. Sebagai contoh, beberapa individu
menggunakan cara kekerasan dalam masa perang, mungkin menghasilkan nilai
sebagai satu-satunya cara dalam memecahkan perselisihan dan percekcokan, bahkan
dalam masa damai. Beberapa pemimpin pemerintah menggunakan peraturan hukum
sebagai hal yang esensial untuk memelihara hukum dan tatanan, mungkin
menghasilkan nilai-nilai hukum untuk hukum itu sendiri. Akhirnya mereka mungkin
menuntut bahwa beberapa hukum disahkan oleh pemerintah untuk dipatuhi secara
otomatis, bukan materi apa yang hukum diwajibkan.
Sebaliknya
juga benar. Tujuan-tujuan mungkin menjadi penting untuk orang bahwa mereka lupa
berpikir tentang kesopanan terhadap cara-cara yang dibutuhkan untuk
mencapainya. Mereka memutuskan untuk menggunakan beberapa dan semua cara
menurut penyelesaian mereka, bukan materi apa yang mereka butuhkan, untuk
mencapai beberapa tujuan. Barangkali contoh yang amat tragis dari hal ini,
dalam masa sekarang adalah pembunuhan orang Yahudi oleh Nazi di kamp kematian
semasa Perang Dunia II.
D. Alasan-alasan
untuk Menilai
Alasan-alasan orang memberikan penilaian terhadap sesuatu (teruta- ma tipe dari manusia, objek, cara berperilaku) dapat memberitahukan kepada kita sungguh sedikit tentangnya (Fraenkel, 1977). Makanan- makanan, pakaian, atau tipe-tipe dari musik tertentu, mungkin mempunyai nilai, sebab hal-hal tersebut mempunyai daya tarik bagi perasaan kita, sebab kita menemukan pada benda-benda tersebut hal yang menyenangkan bagi perasaan. Kita merasa baik, bila kita makan atau memakai atau mendengar sesuatu. Sering kita akan berupaya banyak sekali terhadap waktu atau kesukaran dalam mengharapkan atau mendekatinya. Objek-objek tertentu seperti anggur bermutu tinggi, cincin intan, tanah di pesisir laut, atau kontrak pemerintah mungkin mempunyai nilai, sebab objek-objek tersebut menghasilkan (atau mungkin mendatangkan hasil) sejumlah besar uang.
Benda-benda
tertentu dari alat-alat atau alat-alat rumah tangga atau material mungkin
mempunyai nilai, sebab benda-benda itu bekerja lebih baik daripada sebanding
dengan yang lain. Keadaan-keadaan tertentu dari peristiwa- peristiwa atau
kondisi-kondisi kehidupan mungkin mempunyai nilai, karena keadaan-keadaan dan
kondisi-kondisi tersebut membolehkan orang untuk hidup dalam cara-cara yang
mereka, yang sebaliknya tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Beberapa hal
mungkin malah mempunyai nilai, namun tidak ada alasan dari orang yang menilai
bahwa hal-hal itu "penting" atau "berguna. Akhirnya cara-cara
tertentu dalam tindakan terhadap manusia-manusia lebih mungkin menghasilkan
nilai dengan rasa keyakinan yang mendalam, didasarkan atas pengalaman dan
refleksi, bahwa cara-cara dan tindakan yang dilakukan adalah benar dan adil.
F. Konflik Nilai
Semua orang tidak memiliki peralatan-peralatan nilai yang
sama. Nilai-nilai dari seseorang mungkin begitu berbeda dari nilai-nilai yang
lain, dalam kenyataan, bahwa dua hal mungkin merasakan diri mereka sendiri
dalam perselisihan yang sungguh-sungguh, bahkan konflik, masing-masing dengan
yang lain. Konflik nilai mungkin tidak hanya antarpersonal (antara
individu- individu, sebagai diri sendiri), tetapi juga interpersonal (dalam
diri seorang). Secara individual mungkin tersobek di antara dua atau lebih
konflik yang diharapkan atau tekanan untuk bertindak dalam cara-cara
tertentu.
G. Ide-ide dan
Perasaan-perasaan
Nilai-nilai adalah ide-ide mengenai harga dari
sesuatu hal; nilai- nilai adalah konsep-konsep, abstraksi-abstraksi. Dengan
begitu, nilai dapat diidentifikasikan, dibandingkan, dipertentangkan,
dianalisa, digeneralisir dan didebatkan. Sebagai standar, nilai dapat digunakan
secara jelas untuk menilai harga dari sesuatu. Tetapi nilai-nilai juga
mempunyai dimensi lain, yaitu dimensi emosional. Karena nilai merupakan
komitmen emosional yang sangat kuat, kesukaan yang kuat terhadap sesuatu. Orang
memelihara secara mendalam tentang benda-benda yang mereka anggap bernilai. Ini
adalah suatu kenyataan, bahwa nilai adalah ide dan perasaan, bahwa nilai
mengandung komponen kognitif dan afektif, yang begitu sering diabaikan oleh
beberapa orang yang menyatakan diri sebagai "pendidik nilai sekarang
ini".
.png)

.png)
Komentar
Posting Komentar